SEBANYAK 100 peneliti dan 10 ahli lintas disiplin diturunkan Kementerian Kebudayaan RI untuk melanjutkan pemugaran dan penelitian di Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.
Kegiatan ini resmi dimulai awal Agustus, dengan supervisi langsung dari Ketua Tim, arkeolog Ali Akbar.
“Penelitian ini melibatkan ahli dari berbagai disiplin seperti geologi, arsitektur, arkeologi, hingga geofisika,” ujar Ali.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Sisa Makanan MBG Tak Dibersihkan di Sekolah tapi di SPPG, Tambahan SOP dari Peristiwa Cianjur
Puluhan Siswa Cianjur yang Alami Keracunan Usai Santap Menu Makan Bergizi Gratis, Ini Tanggapan BGN
Khusus untuk Mahasiswa, Media Online Ini Siap Bantu Terbitkan Artikel Tugas Kampus di Media Online

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang menarik, seluruh peneliti yang terlibat merupakan tenaga lokal. Tidak ada intervensi asing.
Menurut Ali, penelitian kali ini bukan sekadar ekskavasi, melainkan ikhtiar memulihkan martabat sejarah dan menggali narasi kebudayaan yang lebih besar dari sekadar bongkahan batu purba.
Table of Contents
Baca Juga:
Gempa Ringan Guncang Cianjur, Terasa di Cugenang, Cibeber Warungkondang, Cilaku, dan Cipanas
Struktur Piramida Tersembunyi: Usia 5.200 SM dan Misteri Ruang Bawah Tanah
Gunung Padang bukan sekadar situs prasejarah. Ini adalah panggung arkeologi yang menyimpan rahasia masa lalu, tersusun rapi dalam bentuk punden berundak.
Pilar-pilar batu tegak yang tampak di permukaan selama ini hanya kulit terluar dari kompleks bangunan purba.
Berdasarkan hasil ekskavasi awal, di bawah permukaan situs ditemukan lapisan struktur berusia 500 SM.
Namun penemuan paling mencengangkan datang dari lapisan lebih dalam — sekitar empat meter di bawah tanah — yang diperkirakan dibangun pada 5.200 SM.
Bila temuan ini tervalidasi, Gunung Padang bisa lebih tua dari Piramida Giza di Mesir maupun Stonehenge di Inggris.
“Indikasi adanya ruang bawah tanah juga sangat kuat. Kami mendeteksi potensi ruang tertutup yang belum dibuka,” tambah Ali.
Gunung Padang, Antara Klaim Peradaban Tinggi dan Tanggung Jawab Ilmiah
Gunung Padang bukan situs sembarangan. Dengan luas hampir 29 hektare (tepatnya 291.800 meter persegi), situs ini diyakini sebagai struktur megalitikum terbesar se-Asia Tenggara.
Namun kebesaran Gunung Padang bukan hanya soal ukuran, tetapi soal kemungkinan adanya peradaban maju yang menghilang dalam jejak waktu.
Pernyataan ini tidak main-main, namun juga tidak bisa dipercaya mentah-mentah.
Di sinilah peran sains diuji. Fakta harus dipisahkan dari mitos. Ilmu pengetahuan harus menjadi jangkar, bukan sekadar bumbu naratif nasionalisme.
Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.
“Jangan buru-buru menyimpulkan ini buatan alien atau peradaban Atlantis,” ujar Ali berseloroh.
Kementerian Kebudayaan pun berhati-hati. Dalam pernyataan resminya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa penelitian ini untuk “memastikan informasi, bukan mengukuhkan klaim tanpa bukti.”
Membongkar Warisan, Membangun Kesadaran
Situs Gunung Padang ditemukan pertama kali oleh peneliti Belanda, NJ Krom, pada 1914.
Namun baru beberapa dekade terakhir ia kembali mencuat ke ruang publik dan dunia akademik.
Bangunan ini disusun dari batuan kekar tiang (columnar joints) yang langka, dan ditata menjadi tangga, teras, kursi, dan pilar — seolah ada kecerdasan arsitektural yang belum kita pahami sepenuhnya.
Pertanyaannya: siapa yang membangun ini? Dan lebih penting lagi: mengapa peradaban semacam itu bisa hilang tanpa jejak?
Penelitian Gunung Padang bukan hanya soal arkeologi. Ini adalah soal identitas, sejarah, dan arah kebudayaan kita hari ini.
Apakah kita cukup berani menatap masa lalu secara jujur? Atau justru lebih suka membungkusnya dengan euforia kebesaran yang semu?.****
Sempatkan untuk membaca berbagai berita dan informasi seputar ekonomi dan bisnis lainnya di media Arahnews.com dan Haloagro.com.
Simak juga berita dan informasi terkini mengenai politik, hukum, dan nasional melalui media Sentranews.com dan Indonesiaraya.co.id.
Informasi nasional dari pers daerah dapat dimonitor langsumg dari portal berita Hellojateng.com dan Hariankarawang.com.
Untuk mengikuti perkembangan berita nasional, bisinis dan internasional dalam bahasa Inggris, silahkan simak portal berita Indo24hours.com dan 01post.com.
Pastikan juga download aplikasi Hallo.id di Playstore (Android) dan Appstore (iphone), untuk mendapatkan aneka artikel yang menarik. Media Hallo.id dapat diakses melalui Google News. Terima kasih.
Kami juga melayani Jasa Siaran Pers atau publikasi press release di lebih dari 175an media, silahkan klik Persrilis.com
Sedangkan untuk publikasi press release serentak di media mainstream (media arus utama) atau Tier Pertama, silahkan klik Publikasi Media Mainstream.
Indonesia Media Circle (IMC) juga melayani kebutuhan untuk bulk order publications (ribuan link publikasi press release) untuk manajemen reputasi: kampanye, pemulihan nama baik, atau kepentingan lainnya.
Untuk informasi, dapat menghubungi WhatsApp Center Pusat Siaran Pers Indonesia (PSPI): 085315557788, 087815557788.
Dapatkan beragam berita dan informasi terkini dari berbagai portal berita melalui saluran WhatsApp Sapulangit Media Center
















